Sebenarnya ini kisah lama, namun saya baru bergabung dengan komunitas Bike2work per hari ini.
Kisah ini dimulai dari tanggal 25 Maret 2008 yang lalu, dimana saya baru bergabung dengan sekolah internasional menjadi PRE - Parent Relations Executive di daerah Gading Pelangi yang memang dekat dengan rumah, namun sarana transportasi umum untuk PP tidak tersedia, maka dari hari pertama kerja sampai dengan minggu ke tiga, saya pergi menggunakan ojek.
Setelah berhitung dengan matematika sempoa dan dengan pemikiran yang boleh dibilang tergolong chinese descendants, ongkos pergi dengan ojek seharga RP. 5.000,- one way tidak sebanding dengan jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah yang hanya berjarak 1 km saja (which is only 4 minutes by ojek).
Di sisi lain, sebenarnya saya ada sepeda pasar asli buatan ayah saya yang tiada dua-nya, yang dibuat sejak 11 tahun lalu untuk ibu saya pergi ke pasar. Coba anda bayangkan, sepeda Made in Gunung kapur dan sudah berusia 11 tahun, sudah ada di bayangan Anda? Nah itu dia!
walaupun sepeda saya berwarna merah, tapi cat-nya sudah tidak menyerupai warna merah lagi, lebih ke arah kuning karena karatan. Berhubung ini hasil bikinan orang tua, dan modal PEDE JAYA, maka saya memutuskan terhitung tanggal 14 April 2008 saya pulang pergi dengan menggunakan sepeda sampai dengan hari ini saya menulis kesaksian.
Hari pertama, kalo engga malu pasti boooonng berat... maklum lah, sekolah tempat dimana saya bekerja memang memiliki strata sosial B+ to A, yang satu murid at least 1 mobil. Dengan baju kemeja rapih, celana panjang yang lumayan mode masa kini, saya lenggang mengenjot dan melewati puluhan mobil yang macet mengantri masuk ke dalam kawasan sekolah.
Alhasil rata-rata para murid yang masih di dalam mobil, serentak langsung membuka kaya sambil berteriak, "MISSSSSS NOVIA...!!!!!!" ok.. dengan senyum semeringah campur kecut kontan saya balas teriak, "HELLOOO!! GOOD MORNING!"
Siangnya semua bertanya mulai dari parents, teachers, assistant teachers, sampai dengan Nannies. Ada yang kasih jempol 10 jari bahkan sampai memberikan comment, "Miss Novi enak amat naik sepeda, anak saya jadi ngerengek ikutan mo naik sepeda ke sekolah tuh."
Namun ada juga dari pihak parents maupun assistant teacher yang memandang hina dina sepeda butut yang sarat sejarah cinta itu. Mereka mungkin beranggapan tidak pantas seorang PRE naik sepeda butut. So, harus gemana donk menanggapinya? Cuek aja! memang mereka mau beliin sepeda baru?
Pernah suatu saat ada rekan sejawat yang beda divisi berkata, 'Nov lu malu-maluin nama sekolah. Sepeda butut lo bawa ke sini. MALU TAU!"
Enteng saya jawab."Miss, You belum kaya saya sudah menghina I. Bagaimana nanti kalau You sudah sukses berat seperti mami-mami sekolah ini, pastilah You injak-injak kepala I."
Entah karena malu atu marah, dia langsung melengos pergi tanpa berkoment apa pun tentang sepeda saya lagi sampai sekarang.
So....? Jaman sekarang malu naek sepeda? cobalah kau tengok cerita ini, baru tengkok dompet kau. Pasti di akhir bulan, Anda akan kaget berat melihat berapa banyak yang bisa Anda saving untuk tabungan dan bebas memilih yang anda suka di pusat perbelanjaan?
Kisah ini dimulai dari tanggal 25 Maret 2008 yang lalu, dimana saya baru bergabung dengan sekolah internasional menjadi PRE - Parent Relations Executive di daerah Gading Pelangi yang memang dekat dengan rumah, namun sarana transportasi umum untuk PP tidak tersedia, maka dari hari pertama kerja sampai dengan minggu ke tiga, saya pergi menggunakan ojek.
Setelah berhitung dengan matematika sempoa dan dengan pemikiran yang boleh dibilang tergolong chinese descendants, ongkos pergi dengan ojek seharga RP. 5.000,- one way tidak sebanding dengan jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah yang hanya berjarak 1 km saja (which is only 4 minutes by ojek).
Di sisi lain, sebenarnya saya ada sepeda pasar asli buatan ayah saya yang tiada dua-nya, yang dibuat sejak 11 tahun lalu untuk ibu saya pergi ke pasar. Coba anda bayangkan, sepeda Made in Gunung kapur dan sudah berusia 11 tahun, sudah ada di bayangan Anda? Nah itu dia!
walaupun sepeda saya berwarna merah, tapi cat-nya sudah tidak menyerupai warna merah lagi, lebih ke arah kuning karena karatan. Berhubung ini hasil bikinan orang tua, dan modal PEDE JAYA, maka saya memutuskan terhitung tanggal 14 April 2008 saya pulang pergi dengan menggunakan sepeda sampai dengan hari ini saya menulis kesaksian.
Hari pertama, kalo engga malu pasti boooonng berat... maklum lah, sekolah tempat dimana saya bekerja memang memiliki strata sosial B+ to A, yang satu murid at least 1 mobil. Dengan baju kemeja rapih, celana panjang yang lumayan mode masa kini, saya lenggang mengenjot dan melewati puluhan mobil yang macet mengantri masuk ke dalam kawasan sekolah.
Alhasil rata-rata para murid yang masih di dalam mobil, serentak langsung membuka kaya sambil berteriak, "MISSSSSS NOVIA...!!!!!!" ok.. dengan senyum semeringah campur kecut kontan saya balas teriak, "HELLOOO!! GOOD MORNING!"
Siangnya semua bertanya mulai dari parents, teachers, assistant teachers, sampai dengan Nannies. Ada yang kasih jempol 10 jari bahkan sampai memberikan comment, "Miss Novi enak amat naik sepeda, anak saya jadi ngerengek ikutan mo naik sepeda ke sekolah tuh."
Namun ada juga dari pihak parents maupun assistant teacher yang memandang hina dina sepeda butut yang sarat sejarah cinta itu. Mereka mungkin beranggapan tidak pantas seorang PRE naik sepeda butut. So, harus gemana donk menanggapinya? Cuek aja! memang mereka mau beliin sepeda baru?
Pernah suatu saat ada rekan sejawat yang beda divisi berkata, 'Nov lu malu-maluin nama sekolah. Sepeda butut lo bawa ke sini. MALU TAU!"
Enteng saya jawab."Miss, You belum kaya saya sudah menghina I. Bagaimana nanti kalau You sudah sukses berat seperti mami-mami sekolah ini, pastilah You injak-injak kepala I."
Entah karena malu atu marah, dia langsung melengos pergi tanpa berkoment apa pun tentang sepeda saya lagi sampai sekarang.
So....? Jaman sekarang malu naek sepeda? cobalah kau tengok cerita ini, baru tengkok dompet kau. Pasti di akhir bulan, Anda akan kaget berat melihat berapa banyak yang bisa Anda saving untuk tabungan dan bebas memilih yang anda suka di pusat perbelanjaan?
Posted under:
Oey Tiang Tjoei, legend of family and country
Last 17 August 2008 was the independence day of Indonesia. I usually skipped the assembly for long time ago except this year as I involve in the education institution.
I missed those days where my friends and I used to assembly in the field every Monday morning and on August 17th sang the national song, honor the national flag while it flutter. I was also the former color bearer when I was in junior school.
On the contrary, my mum and dad never missed out the school assembly; yeah right… they’re teachers. They also never absent to watch the assemblage-live show from the president palace on television. On that day, every year, my mum nostalgia about his father, yup who also entitled to be my grand father. A very old story yet I never experience how it feels like to have a grand father like him. My mum always said that my grand father, Oey Tiang Tjoe, was a legend of Oey family.
For some of you, maybe legend is a lie that has attained the dignity age. For Voltaire, historians are gossips who tease the dead. However for me, if you want to understand today, you have to search yesterday. And I’m doing it.
I’m barely knew him. He passed away before my mother got married. All I know is he was an old man, Holland speaker, who has white hair with loud voice, ferocious plus hard hitting and has 3 wives. Ouch! I never thought my grandfather was the polygamy-adherent. Until the end of his life, he lived with my grandmother, his 2nd wife, the devoted wife, who has raised 8 children with care and gentle. They have through all the rough and blissful days together.
My curiosity leads me, so I took a research of my grandfather, searching in the internet and look what I’ve found from my research.. I type Oey Tiang Tjoe – search..
Damn! I never knew that he was one of the Chinese highborn descendants and one of the members who took a part in preparing the Independence Day A.K.A BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/08/30/0000.html
Oey Tiang Tjoei adalah pimpinan surat kabar Hong Po dan ketua Hua Ch'iao Chung-hui (HCCH) (bahasa Jepang Kakyo Sokai) di Jakarta pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pemerintah Jepang melebur berbagai organisasi dagang Tionghoa jaman Belanda ke dalam badan HCCH ini. Pada tahun 1945 ia dipilih menjadi anggota BPUPKI. http://id.wikipedia.org/wiki/Oey_Tiang_Tjoe
Although my cousin told me, “let the history be the history!” I think my mother is right, My grandfather may not a man of success, yet he was a man of value and I proud of him After all, in a certain sense all men are historians, aren’t u?
Very few things happen at the right time, and the rest do not happen at all: the conscientious historian will correct these defects. ~Herodotus, The History of Herodotus
Longevity Indonesia!
Last 17 August 2008 was the independence day of Indonesia. I usually skipped the assembly for long time ago except this year as I involve in the education institution.
I missed those days where my friends and I used to assembly in the field every Monday morning and on August 17th sang the national song, honor the national flag while it flutter. I was also the former color bearer when I was in junior school.
On the contrary, my mum and dad never missed out the school assembly; yeah right… they’re teachers. They also never absent to watch the assemblage-live show from the president palace on television. On that day, every year, my mum nostalgia about his father, yup who also entitled to be my grand father. A very old story yet I never experience how it feels like to have a grand father like him. My mum always said that my grand father, Oey Tiang Tjoe, was a legend of Oey family.
For some of you, maybe legend is a lie that has attained the dignity age. For Voltaire, historians are gossips who tease the dead. However for me, if you want to understand today, you have to search yesterday. And I’m doing it.
I’m barely knew him. He passed away before my mother got married. All I know is he was an old man, Holland speaker, who has white hair with loud voice, ferocious plus hard hitting and has 3 wives. Ouch! I never thought my grandfather was the polygamy-adherent. Until the end of his life, he lived with my grandmother, his 2nd wife, the devoted wife, who has raised 8 children with care and gentle. They have through all the rough and blissful days together.
My curiosity leads me, so I took a research of my grandfather, searching in the internet and look what I’ve found from my research.. I type Oey Tiang Tjoe – search..
Damn! I never knew that he was one of the Chinese highborn descendants and one of the members who took a part in preparing the Independence Day A.K.A BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/08/30/0000.html
Oey Tiang Tjoei adalah pimpinan surat kabar Hong Po dan ketua Hua Ch'iao Chung-hui (HCCH) (bahasa Jepang Kakyo Sokai) di Jakarta pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pemerintah Jepang melebur berbagai organisasi dagang Tionghoa jaman Belanda ke dalam badan HCCH ini. Pada tahun 1945 ia dipilih menjadi anggota BPUPKI. http://id.wikipedia.org/wiki/Oey_Tiang_Tjoe
Although my cousin told me, “let the history be the history!” I think my mother is right, My grandfather may not a man of success, yet he was a man of value and I proud of him After all, in a certain sense all men are historians, aren’t u?
Very few things happen at the right time, and the rest do not happen at all: the conscientious historian will correct these defects. ~Herodotus, The History of Herodotus
Longevity Indonesia!
Posted under:


