Skip to Navigation Skip to Content

Agar Hidup Lebih Hidup

Setiap orang memiliki kecendrungan minat, kesukaan dan hobi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang sekedar menyukai, mencoba bahkan sampai benar-benar menggeluti di bidang kesenian, olahraga, spiritual, sosial dan lainnya. Masing-masing orang bebas mengekspresikan dirinya sendiri, dengan caranya sendiri sebagai bentuk aktualisasi dirinya.

Setiap kegemaran tidak dapat kita pukul sama rata dan seseorang tidak bisa dipaksakan oleh orangtua, pacar atau temannya untuk mengikuti/meminati suatu minat yang sama dengan orang lain. Seorang yang suka dengan dunia fotografi rela menghabiskan uang puluhan juta untuk membeli kamera SLR, lensa, selongsong, tripod, penangkal cahaya dan atribut fotografi lainnya demi keindahan akan hasil jepretan dari tangan sang amatiran maupun professional. Pengkoleksi perangko, barang-barang antik akan memburu perangko dan barang-barang antik hingga belahan penjuru dunia. Seorang yang mencintai dunia musik rela membeli dan mengkoleksi peralatan band atau bahkan sampai mengolah vocal di institusi informal. Pencinta olahraga mendedikasikan hidupnya untuk berlatih secara rutin bahkan ada yang hampir setiap hari untuk selalu belajar tanpa mengenal bosan.

Minat dalam olahraga pun masing-masing individu memiliki minat-nya masing-masing, setiap cabang olahraga juga menawarkan peminatnya dengan keunikan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing, misalnya saja seperti olahraga basket, Voli, futsal, rugby, kasti, baseball (sports), olahraga bela diri, olahraga yang memacu adrenalin, olahraga kesehatan, olahraga professional sampai dengan olahraga fun amatiran. Itulah mengapa ada banyak berbagai macam komunitas untuk menuangkan minat dan bakat para personilnya

Saya sendiri suka mencoba hal-hal baru dan masih mencari kemana arah minat yang ingin saya pelajari secara serius mengingat saya tipe slow-learner-but-easily-get-bored. Maklum saja, saya tipe orang yang super sangat cepat bosan terhadap satu bidang apalagi kalau engga bisa-bisa (kata kasarnya susah untuk berkomitmen). Baru-baru ini, saya sedang tertarik dengan segala jenis olahraga yang menantang adrenalin. Banyak orang berpendapat bahwa aktivitas yang saya pilih hanya sebuah pelampiasan semata, ada juga yang berpikir bahwa mungkin sebagai pembuktian bahwa wanita bisa melakukan hal yang sama dengan pria atau pelarian dari masalah. Apapun anggapan orang, yang pasti saya sedang menikmati aktivitas ini dan entah sampai kapan akan terus menyukai hal seperti ini. Terkadang saya berpikir mengapa orang lain tidak mau mencoba hal-hal baru seperti yang saya lakukan mumpung masih muda, ada rejeki dan bernafas? Sedangkan orang lain berpikir, “Lu ngapain ikutin permainan sampai ratusan ribu cuma buat lompat sana-sini yang ga lebih dari 3 menit? Apa yang mau lu buktikan? Mendingan tu duit bukan makan, belanja atau ditabung yang lebih berguna!”

Disini kita menemukan adanya perbedaan pendapat akan minat yang tidak semua orang bisa menerima atau mau memahami perbedaan tersebut. Bagi saya, saat ini, lebih baik saya mengeluarkan uang untuk kesenangan aktivitas olahraga adrenalin, yang walaupun sebenarnya pada saat lompat tidak (belum) berhasil, daripada membeli telefon genggam canggih blueberry strawberry.




Etizz, ternyata saya juga oknum yang suka “mengenye” hobi orang lain termasuk hobi ayah saya sendiri. Sebenarnya saya bersyukur dan beruntung memiliki ayah yang serba bisa dalam membuat, mendesain dan memperbaiki hampir semua benda. Pada saat renovasi rumah, alih-alih membuang uang berkonsultasi mengenai desain rumah dan hongsui, ayah saya membuat maket rumah miniature sendiri hasil dari lihat-lihat di majalah.
Jaman saya masih kelas 5 SD, dimana hampir semua anak punya sepeda “federal gunung” dan "mengrinyeng" minta dibelikan, ayah saya mengabulkan permintaan saya ohh tentu saja bukan sepeda baru yang dibelikan, namun merakit sepeda sendiri yang semua partisinya dibeli terpisah dari tukang loak gang kancil sampai tukang loak gunung kapur. Pada saat rumah kebanjiran, lemari pakaian rusak, motor kebanjiran, mobil kebanjiran dan mesin pompa air rusak, daripada membeli baru atau membetulkan kepada yang ahli, ayah saya memilih jalan untuk “low cost, save the budget” yah… beli kayu sendiri terus ukur sana-sini, gergaji sendiri, ngarut, ngamplas, ngebor, mantek, ngecat sendiri alhasil baju saya suka pada kuning akibat cat yang dipakai cuma plituran.
Begitu pula dengan semua barang-barang lainnya, selama masih bisa dibuat sendiri, dibetulkan sendiri, kerjakan sendiri (celana training saya yang robek pun dijahit oleh sang ayah daripada pergi ke tukang jahit haha…)

Ada satu hobi ayah saya yang menganggu saya, yaitu membuat alat untuk olahraga seperti: penjungkit untuk mengecilkan perut, alat untuk mengecilkan paha (yang desainnya dicontek dari TV promosi alat-alat kesehatan), matras olahraga, bantal meditasi, double-stick, trisula bahkan sampai keris. Permasalahannya kalau ayah sedang menyukai 1 hal, benda yang dibuat engga cuma 1! Double stick bisa sampe ada 10 buah di rumah, ada yang dari kayu, besi, rantai 2, rantai 3. miniatur keris kuan kong, bandul segitiga energi dan saya tidak dapat memahami kesenangan yang didapatkan oleh ayah saya pada saat ayah membuat benda-benda yang menurut saya tidak lebih dari kegiatan memperbanyak sampah rumah tangga dan mempersempit rumah. Saya selalu complain, “Papi bikin ampe 10 , entar kalo uda bosen digeletakin aja begitu, menuh-menuhi ruangan, belom lagi kalo pas bikin, semua jadi kotor, banyak seprihan kayu, berisik getok sana-sini, ngilu dengerin pas ngikir udalah kaga usah bikin-bikin lagi, apalagi kalo banjir jadi kelabakan sendiri!”

Pada saat saya tidak mau menerima kesenangan yang dirasakan oleh ayah saya akan hobinya dan memahami perbedaan, ya pantaslah bila orang lain pun juga ada yang tidak dapat memahami kesenangan saya pada saat saya meloncat konyol dari atas ke bawah. Hukum alam berlaku adil bagi semua. Dan saya, anda, kalian, kita, mereka adalah bagian dari hukum alam universal ini.



Posted under: