Seberapa sering kita telah melewatkan kesempatan untuk melakukan kebaikan kecil yang mungkin dapat membuat orang lain atau mahluk lain merasa sedikit berbahagia?
Ini adalah sebuah kisah yang terjadi di kehidupan saya sehari-hari, dimana kesempatan tersebut mungkin tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

Selasa, 31 Maret 2009 pukul 06:55 wib
saya berada di perempatan lampu merah Masjid Al’mushawarah menuju Vihara yang terletak di Kelapa Nias Raya untuk berdana makanan kepada bhante yang lagi menginap di kuti vihara. Pada saat lampu merah menyala, puluhan kendaraan bermotor mulai memadati kawasan Kelapa Gading di pagi hari.
Di sebelah kanan tepat di sisi sebelah kanan saya, terdapat putaran letter U menanjak arah ke perumahan Kelapa Nias dalam. Awalnya pandangan mata saya terfokus pada lampu merah berharap berubah menjadi hijau secepatnya, namun tanpa sengaja pandangan saya dialihkan oleh pemandangan seorang bapak setengah baya dengan pakaian lusuh, kurus, otot betis kaki penuh varises dan bertelanjang kaki membawa gerobak penuh dengan kayu-kayu berpaku. Sepintas saya mengamati dengan acuh tak acuh, rupanya dari gaya pakaian dan gerobak yang dibawa saya dapat menebak kalau bapak itu pasti tukang pengumpul barang bekas. Rupa-rupanya bapak tersebut mau jalan ke arah putaran letter U yang memang sedikit menanjak. Berkali-kali bapak tersebut mencoba untuk menarik gerobaknya sambil melompat-lompat karena isi gerobaknya penuh dengan kayu berpaku sedangkan tubuh bapak tersebut tidak cukup kuat untuk menyeimbangkan gerobak agar maju ke depan. Berkali-kali dia mencoba, saya hanya melihat dari motor terpana dan merasa iba, berharap ada orang yang membantunya, begitu juga dengan para pengendara lainnya hanya menatap dari kejauhan sambil menunggu lampu merah.
Beberapa saat berlalu, bapak itu belum juga berhasil maju kedepan dan belum ada orang yang membantunya. Dalam pikiran saya terbesit, saya ingin sekali membantu bapak itu, tapi tidak mungkin karena saya sedang mengendarai motor dan di depan lamou merah, kalau saya turun dari motor, tiba-tiba lampu hijau menyala pasti orang-orang pada klaskon dan terlalu bahaya bagi saya untuk sembarangan menaruh motor di jalan raya, lagipula saya mengejar waktu karena 5 menit lagi dana makanan dimulai. Pikiran-pikiran tersebut terlalu kuat daripada niat untuk membantu. Lampu hijau pun menyala dan akhirnya saya melaju meninggalkan bapak tersebut yang tadinya hanya berjarak 1 meter dari saya.
Ada perasaan menyesal setelah saya tiba di vihara, mengapa saya tidak membantu sebentar untuk mendorong gerobaknya, mengkawatirkan 5 menit terlambat untuk berdana makanan dan khawatir apabila motor ditinggal di jalan raya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya memilih untuk melepaskan kesempatan di depan mata yang memang benar-benar sedang memerlukan pertolongan. Lain halnya apabila motor saya diserempet (amit-amit), kendaraan yang menyerempet saya, pasti akan saya kejar dan kalau perlu pada saat di lampu merah pun akan saya hadang dengan cara berhenti di tengah jalan agar kendaraan tersebut tidak dapat kabur.
Rabu, 01 April 2009, pukul 19:30 wib
Saya berada di lapangan parkir Sport Mall untuk berjalan masuk karena mau latihan. Di tengah pintu masuk sebelah Papa Ronz Pizza terdapat seekor anjing berbulu keriting warna hitam sedang duduk manis di tangga. Orang yang lalu lalang hanya berhenti sebentar dan bertanya dari mana asal anjing bagus ini dan sebagian membelai anjing tersebut, begitu pula dengan saya. Seorang wanita muda berkata kepada saya, ”Anjing-nya lucu banget, kesian deh lagi nangis itu keluar air matanya.” Saya perhatikan lagi secara seksama, benar anjingnya duduk sambil mengeluarkan air mata!!! Saya bertanya kepada petugas parkir yang sedang berjaga dan dia berkata dia sedang menunggu majikannya di dalam sport mall yang tak kunjung kembali. Ketika saya membelai anjing (sepertinya campuran poddle) tersebut saya merasakan napasnya yang tersenggal-senggal. Sejenak saya terbesit untuk membelikan sepotong pizza Papa Ronz untuk anjing tersebut, mungkin saja dia lapar belum makan berhari-hari melihat kondisi badannya yang banyak debu dan dahan pohon nyagkut di bulu keritingnya.
Lagi-lagi niat baik saya dikalahkan oleh pikiran, ”waduh uda telat nih, terus kalau nanti gue deket ni anjing entar kalau majikannya kemabli ,disangka gue mo culik lagi. Lain kali aja deh, abis latihan kalo engga nanti gue cek lagi.”
Akhirnya saya berlalu masuk ke dalam tanpa membelikan makanan apapun...
Sesampai di tempat latihan, ternyata latihan belum dimulai dan untuk kedua kalinya saya merasa menyesal kenapa saya tadi tidak menyempatkan diri untuk membelikan makana untuk anjing tersebut. Pulang latihan sudah larut malam saya tidak melihat anjing itu lagi.
Apakah saya akan melewatkan kesempatan untuk berbuat baik yang ketiga, keempat, kelima, keenam kalinya?
Ini adalah sebuah kisah yang terjadi di kehidupan saya sehari-hari, dimana kesempatan tersebut mungkin tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

Selasa, 31 Maret 2009 pukul 06:55 wib
saya berada di perempatan lampu merah Masjid Al’mushawarah menuju Vihara yang terletak di Kelapa Nias Raya untuk berdana makanan kepada bhante yang lagi menginap di kuti vihara. Pada saat lampu merah menyala, puluhan kendaraan bermotor mulai memadati kawasan Kelapa Gading di pagi hari.
Di sebelah kanan tepat di sisi sebelah kanan saya, terdapat putaran letter U menanjak arah ke perumahan Kelapa Nias dalam. Awalnya pandangan mata saya terfokus pada lampu merah berharap berubah menjadi hijau secepatnya, namun tanpa sengaja pandangan saya dialihkan oleh pemandangan seorang bapak setengah baya dengan pakaian lusuh, kurus, otot betis kaki penuh varises dan bertelanjang kaki membawa gerobak penuh dengan kayu-kayu berpaku. Sepintas saya mengamati dengan acuh tak acuh, rupanya dari gaya pakaian dan gerobak yang dibawa saya dapat menebak kalau bapak itu pasti tukang pengumpul barang bekas. Rupa-rupanya bapak tersebut mau jalan ke arah putaran letter U yang memang sedikit menanjak. Berkali-kali bapak tersebut mencoba untuk menarik gerobaknya sambil melompat-lompat karena isi gerobaknya penuh dengan kayu berpaku sedangkan tubuh bapak tersebut tidak cukup kuat untuk menyeimbangkan gerobak agar maju ke depan. Berkali-kali dia mencoba, saya hanya melihat dari motor terpana dan merasa iba, berharap ada orang yang membantunya, begitu juga dengan para pengendara lainnya hanya menatap dari kejauhan sambil menunggu lampu merah.
Beberapa saat berlalu, bapak itu belum juga berhasil maju kedepan dan belum ada orang yang membantunya. Dalam pikiran saya terbesit, saya ingin sekali membantu bapak itu, tapi tidak mungkin karena saya sedang mengendarai motor dan di depan lamou merah, kalau saya turun dari motor, tiba-tiba lampu hijau menyala pasti orang-orang pada klaskon dan terlalu bahaya bagi saya untuk sembarangan menaruh motor di jalan raya, lagipula saya mengejar waktu karena 5 menit lagi dana makanan dimulai. Pikiran-pikiran tersebut terlalu kuat daripada niat untuk membantu. Lampu hijau pun menyala dan akhirnya saya melaju meninggalkan bapak tersebut yang tadinya hanya berjarak 1 meter dari saya.
Ada perasaan menyesal setelah saya tiba di vihara, mengapa saya tidak membantu sebentar untuk mendorong gerobaknya, mengkawatirkan 5 menit terlambat untuk berdana makanan dan khawatir apabila motor ditinggal di jalan raya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya memilih untuk melepaskan kesempatan di depan mata yang memang benar-benar sedang memerlukan pertolongan. Lain halnya apabila motor saya diserempet (amit-amit), kendaraan yang menyerempet saya, pasti akan saya kejar dan kalau perlu pada saat di lampu merah pun akan saya hadang dengan cara berhenti di tengah jalan agar kendaraan tersebut tidak dapat kabur.
Rabu, 01 April 2009, pukul 19:30 wib

Saya berada di lapangan parkir Sport Mall untuk berjalan masuk karena mau latihan. Di tengah pintu masuk sebelah Papa Ronz Pizza terdapat seekor anjing berbulu keriting warna hitam sedang duduk manis di tangga. Orang yang lalu lalang hanya berhenti sebentar dan bertanya dari mana asal anjing bagus ini dan sebagian membelai anjing tersebut, begitu pula dengan saya. Seorang wanita muda berkata kepada saya, ”Anjing-nya lucu banget, kesian deh lagi nangis itu keluar air matanya.” Saya perhatikan lagi secara seksama, benar anjingnya duduk sambil mengeluarkan air mata!!! Saya bertanya kepada petugas parkir yang sedang berjaga dan dia berkata dia sedang menunggu majikannya di dalam sport mall yang tak kunjung kembali. Ketika saya membelai anjing (sepertinya campuran poddle) tersebut saya merasakan napasnya yang tersenggal-senggal. Sejenak saya terbesit untuk membelikan sepotong pizza Papa Ronz untuk anjing tersebut, mungkin saja dia lapar belum makan berhari-hari melihat kondisi badannya yang banyak debu dan dahan pohon nyagkut di bulu keritingnya.
Lagi-lagi niat baik saya dikalahkan oleh pikiran, ”waduh uda telat nih, terus kalau nanti gue deket ni anjing entar kalau majikannya kemabli ,disangka gue mo culik lagi. Lain kali aja deh, abis latihan kalo engga nanti gue cek lagi.”
Akhirnya saya berlalu masuk ke dalam tanpa membelikan makanan apapun...
Sesampai di tempat latihan, ternyata latihan belum dimulai dan untuk kedua kalinya saya merasa menyesal kenapa saya tadi tidak menyempatkan diri untuk membelikan makana untuk anjing tersebut. Pulang latihan sudah larut malam saya tidak melihat anjing itu lagi.
Apakah saya akan melewatkan kesempatan untuk berbuat baik yang ketiga, keempat, kelima, keenam kalinya?
Posted under:


